Minggu, 12 November 2017

Kembali Ke Rumah Tua




Akhir-akhir ini hidup semakin gila saja. Cinta. Kuliah. Mencari pekerjaan. Dan kebingungan terhadap diri sendiri. Jujur aku cukup lelah, dan ku rasa bukan Cuma aku saja yang seperti ini, tapi banyak orang. Hanya saja saat ini kita terlalu terlatih untuk terlihat baik-baik saja. Mengabaikan faktor perasaan dan mendahulukan ego untuk terlihat kuat didepan umum.

Tapi kali ini, aku ingin sebentar saja melepas topeng ku dan biarkan ku putar waktu kembali ke belasan tahun lalu di sebuah rumah tua. Rumah itu bediri kokoh di sebelah jembatan. Belum terlalu banyak tetangga, lebih tepatnya kami berjauhan dan dengan di kelilingi dengan pohon kelapa dan pohon jati maka lengkap lah terasa seperti di hutan. Tapi selalu ada manfaat karena udara menjadi lebih sejuk, dengan pengecualian di musim panas tepat tengah hari.

Rumah itu di diami pasangan Tameno dan kesepuluh anak nya. Beserta beberapa cucu kece yang sudah lahir – termaksud aku. Kala itu semua masih polos tanpa handphone, komputer atau pun nongkrong di kafe. Hal tercanggih kami adalah nonton TV pada hari minggu, hari dimana dunia memanjakan kami dengan film kartu berturut-turut yang kusayangkan harus ada power rangers di dalam nya. Tapi tak apa jika semua sudah di obati dengan film doraemon.

Ketika siang di musim panas, kami – aku dan para sepupu pergi berenang di sebuah pancuran, mengingat itu cukup menyegarkan di kala keringat terus saja membasahi tubuh kami. Melompat dari batu dan paling ekstrem dari pipa pencuran yang tinggi itu ke dalam kolam. Pancuran itu terletak di dalam hutan. Tidak terlalu tertutup hutan tapi juga jauh dari tempat tinggal penduduk, dan berada di kawasan luas. Jadi bayangakan saja betapa menyenangkannya, tidak ada orang dewasa untuk mengomel, hanya ada kami, kegilaan kami dan suara tawa kami. Hidup yang indah bukan sebelum kedewasaan merengut nya dan memaksa kami melihat hidup lebih serius.

Ketika musim hujan, banjir mulai menghampiri dan membuat jembatan begitu berisik dengan deru air nya. Tapi begitu hujan berhenti, kami langsung berlari keluar rumah dan turun bermain di bawah jembatan. Orang tua kami hanya pasrah dengan kekhawatiran mereka tentang kami dan batu-batu besar yang ada di sana.

Kehidupan di rumah tua itu, tidak se-eklusif sekarang, secanggih sekarang atau se-modern sekarang. Ia hanya sederhana tapi membuat segala nya indah dan cinta terasa hangat disana. Walau aku jujur dengan ancaman ada nenek sihir kalau aku tidak tidur siang, atau kalimat ini yang selalu berhasil menipu ku hingga menyembunyikan diri di bawah bantal “dengar suara apa itu?! Tuh cepat tidur kalau tidak .... ih takut”. Dan kalimat itu berhasil membuat aku tertidur! Selamat untuk tanta-tanta ku dengan cara efektif mereka memaksa kami tidur siang.

Makanan kami kala itu juga bukan KFC, Mcdonald, dan pizza, waktu itu hanya sayur kangkung dan sayur putih. Jarang untuk ayam goreng dan lebih banyak untuk ikan goreng, tapi kebersamaan di waktu makan menjadi bumbu masakan terenak dan membuat kami makan dengan senang hati.

Minuman kami kala itu bukan coca cola atau beer atau pepsi, hanya air putih. Coca-cola hanya kami dapatkan jika natal tiba. Tapi hidup terasa selalu indah. Selalu cerah. Berisik tapi menyenangkan! Dan aku merindukan nya.

Belasan tahun setelah itu. Aku saat ini. Dewasa dan merindukan ketenangan. Berharap berhenti cemas dan melemparkan diri saja di pancuran atau air di bawah jembatan. Tapi hidup berlanjut dan aku menarik napas panjang, mencoba menarik diri kembali dari memori dan berkata pada diri sendiri “hidup berlalu terlalu cepat, dan tanpa sadar aku sudah harus berdiri sendiri, menopang diri sendiri, menjadi seorang anak yang harus berbakti, menjadi seorang kakak yang bertanggung jawab, menjadi seorang mahasiswa yang sukses, dan seluruh keharusan lainnya. Tapi yah ... hadapi saja. Nama nya juga hidup, terus berlanjut kan? Kau takkan bisa berhenti disuatu waktu dan terpaku selama nya disana. I have to be strong dan fight for all people I love”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Tiga Sahabat

Definisi sahabat dari ku adalah menemukan beberapa orang yang bisa menerima kegilaan ku, yang karena mereka juga punya sifat gila...