Akhir-akhir
ini hidup semakin gila saja. Cinta. Kuliah. Mencari pekerjaan. Dan kebingungan terhadap
diri sendiri. Jujur aku cukup lelah, dan ku rasa bukan Cuma aku saja yang
seperti ini, tapi banyak orang. Hanya saja saat ini kita terlalu terlatih untuk
terlihat baik-baik saja. Mengabaikan faktor perasaan dan mendahulukan ego untuk
terlihat kuat didepan umum.
Tapi
kali ini, aku ingin sebentar saja melepas topeng ku dan biarkan ku putar waktu
kembali ke belasan tahun lalu di sebuah rumah tua. Rumah itu bediri kokoh di
sebelah jembatan. Belum terlalu banyak tetangga, lebih tepatnya kami berjauhan
dan dengan di kelilingi dengan pohon kelapa dan pohon jati maka lengkap lah
terasa seperti di hutan. Tapi selalu ada manfaat karena udara menjadi lebih
sejuk, dengan pengecualian di musim panas tepat tengah hari.
Rumah
itu di diami pasangan Tameno dan kesepuluh anak nya. Beserta beberapa cucu kece
yang sudah lahir – termaksud aku. Kala itu semua masih polos tanpa handphone,
komputer atau pun nongkrong di kafe. Hal tercanggih kami adalah nonton TV pada
hari minggu, hari dimana dunia memanjakan kami dengan film kartu berturut-turut
yang kusayangkan harus ada power rangers di dalam nya. Tapi tak apa jika semua
sudah di obati dengan film doraemon.
Ketika
siang di musim panas, kami – aku dan para sepupu pergi berenang di sebuah
pancuran, mengingat itu cukup menyegarkan di kala keringat terus saja membasahi
tubuh kami. Melompat dari batu dan paling ekstrem dari pipa pencuran yang
tinggi itu ke dalam kolam. Pancuran itu terletak di dalam hutan. Tidak terlalu
tertutup hutan tapi juga jauh dari tempat tinggal penduduk, dan berada di
kawasan luas. Jadi bayangakan saja betapa menyenangkannya, tidak ada orang
dewasa untuk mengomel, hanya ada kami, kegilaan kami dan suara tawa kami. Hidup
yang indah bukan sebelum kedewasaan merengut nya dan memaksa kami melihat hidup
lebih serius.
Ketika
musim hujan, banjir mulai menghampiri dan membuat jembatan begitu berisik
dengan deru air nya. Tapi begitu hujan berhenti, kami langsung berlari keluar
rumah dan turun bermain di bawah jembatan. Orang tua kami hanya pasrah dengan
kekhawatiran mereka tentang kami dan batu-batu besar yang ada di sana.
Kehidupan
di rumah tua itu, tidak se-eklusif sekarang, secanggih sekarang atau se-modern sekarang.
Ia hanya sederhana tapi membuat segala nya indah dan cinta terasa hangat
disana. Walau aku jujur dengan ancaman ada nenek sihir kalau aku tidak tidur
siang, atau kalimat ini yang selalu berhasil menipu ku hingga menyembunyikan
diri di bawah bantal “dengar suara apa itu?! Tuh cepat tidur kalau tidak ....
ih takut”. Dan kalimat itu berhasil membuat aku tertidur! Selamat untuk
tanta-tanta ku dengan cara efektif mereka memaksa kami tidur siang.
Makanan
kami kala itu juga bukan KFC, Mcdonald, dan pizza, waktu itu hanya sayur
kangkung dan sayur putih. Jarang untuk ayam goreng dan lebih banyak untuk ikan
goreng, tapi kebersamaan di waktu makan menjadi bumbu masakan terenak dan
membuat kami makan dengan senang hati.
Minuman
kami kala itu bukan coca cola atau beer atau pepsi, hanya air putih. Coca-cola
hanya kami dapatkan jika natal tiba. Tapi hidup terasa selalu indah. Selalu cerah.
Berisik tapi menyenangkan! Dan aku merindukan nya.
Belasan
tahun setelah itu. Aku saat ini. Dewasa dan merindukan ketenangan. Berharap berhenti
cemas dan melemparkan diri saja di pancuran atau air di bawah jembatan. Tapi hidup
berlanjut dan aku menarik napas panjang, mencoba menarik diri kembali dari
memori dan berkata pada diri sendiri “hidup berlalu terlalu cepat, dan tanpa
sadar aku sudah harus berdiri sendiri, menopang diri sendiri, menjadi seorang
anak yang harus berbakti, menjadi seorang kakak yang bertanggung jawab, menjadi
seorang mahasiswa yang sukses, dan seluruh keharusan lainnya. Tapi yah ...
hadapi saja. Nama nya juga hidup, terus berlanjut kan? Kau takkan bisa berhenti
disuatu waktu dan terpaku selama nya disana. I have to be strong dan fight for
all people I love”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar