Minggu, 29 Oktober 2017

Pendeta Kami Yang Luar Biasa


Saya pernah dengar hal ini bahwa pemimpin yang luar biasa bukan lah pemimpin yang menggerakkan orang yang di pimpin nya dengar perintah tapi memotivasi dari dalam dan membuat orang yang dipimpin tersebut bergerak tanpa di perintah, sesuai dengan keinginan dari sang pemimpin.

Saya pernah kenal seseorang seperti itu. Dia salah satu pendeta di Gereja kami. Saya belum pernah bertemu pendeta yang apa adanya tanpa harus merasa bahwa ia pendeta dan harus selalu bijak, punya image yang baik dan suci. Bayangkan ia kadang memasukan rap nya yang buruk untuk berkotbah. Dan kemudian semua kantuk jemaat pun hilang.

Dia pendeta dengan gaya khotbah yang modern, maksud saya ia tidak terpaku pada pokok pemberitaan tapi lebih pada contoh nyata dan kemudian masuk dalam pokok pembicaraan lalu berakhir dengan kata bijak atau cerita pendek yang luar biasa berkesan di hati. 

Mendengar khotbah nya bagi saya sejenis mendapat makanan rohani tapi pada saat yang sama saya mendapat pengetahuan berkat khotbah nya yang kebanyakan menggunakan contoh dari biografi tokoh-tokoh terkenal. See, seperti mendayung dua tiga pulau terlampaui lah.

Dia juga adalah penggerak. Bayangkan ia tidak terlalu menanamkan cita-cita pegawai, pejabat atau sejenis nya yang lebih tinggi. Ia selalu mulai dari hal sederhana tapi membantu kehidupan jemaat dengan sangat luar biasa seperti bertani atau berkebun. Percaya atau tidak saya sekeluarga yang notabene nya benci kebun atau sawah pada akhirnya bercocok tanam di area samping rumah kami. Pendeta ini juga memberi lomba yang luar biasa unik seperti siapa menanam tanam A atau B terbanyak, dan masih banyak hal unik lainnya yang luar biasa.

Namun ada lah masa rotasi pendeta dan pada akhirnya ia harus pindah ke jemaat lain di gereja lain. Dan dampaknya luar biasa. Ia sedih? Yup! Kami sedih? kami tidak rela? SANGAT!! 

Singkat cerita, pagi tadi ia sudah di antarkan ke jemat baru dan sore tadi saya merasakan bagaimana aura gereja kami. KOSONG!!!! LESU! KEHILANGAN!

Bagi kami ia bukan hanya sekedar pendeta tapi seorang ibu. Dan kami anak-anak yang terkapar di bumi lalu menemukan dia dengan semua semangat dan motivasi untuk kami, menemukan dia dengan semua keunikan dan sikap berani beda nya diantara dunia yang mencemooh pribadi yang berbeda, Ia seperti seorang pemimpin luar biasa. 

Dan jika kalian bertanya bagaimana perasaan saya? Well, dia tempat saya mendapat pelukan ketika saya butuh dan ketika dia tidak ada lagi di jemaat kami dan saya benar-benar berencana membuat satu puisi untuk melepas dia, kenyataan nya saya cukup kesal atas kepindahannya sampai tidak mampu merangkai satu kalimat pun. Rasa nya sedih, rasanya benar-benar tidak rela.

Tapi ya sutra lah, mau bagaimana lagi. Saya hanya bisa berdoa agar ia baik-baik saja di tempat kerja nya yang baru. Semoga ia juga mampu menjadi mama yang luar biasa untuk jemaat yang baru. WALAU SAYA TIDAK RELA (kayak anak kecil yah ...) tapi itu lah ketika kita menyayangi seseorang rasa nya sulit untuk berpisah atau sekedar berbagi. hahahaha

GOD BLESS YOU MOM

Rabu, 18 Oktober 2017

Tell First, Accept or Not Doens't Matter

Judul di atas adalah salah sifat dari diri saya. when I fall in love, I can't keep it so long in my heart, I have to tell. Scare? yeah! Shy? Of course. Tapi di banding itu semua yang justru bikin lebih sulit adalah memendam rasa seorang diri, mencintai dalam diam dan kemudian dia tidak akan pernah tahu! Stupid? Yes!

Jadi katakanlah acara malam kemarin jadi ajang dimana saya memberanikan diri dalam momen yang sama sekali tidak mendukung, dengan debaran jantung yang liar dan mata yang buas (hahahha :)) ), saya maju saja berusaha membawa diri nya pergi sebentar untuk bicara dan jreng .. jreng .. jreng .. terungkap lah semua!

 Harus di akui wajah dia waktu itu lucu, maksud nya mungkin dia sama sekali tidak menyangka ada perempuan sinting yang tiba-tiba menarik nya dalam momen yang tidak mendukung hanya untuk mengungkapkan perasaan. Tapi setidaknya sekarang waktu saya tulis blog ini saya sudah merasa plong! Saya tidak tertekan lagi dengan perasaan saya. ;-)

Saya kadang bingung kenapa orang lain merasa tidak akan mau mengungkapkan perasaan mereka dan memilih memendam sendiri. Ah tapi ya sutra lah, mungkin mereka memang kuat memendam sendiri, nah kalau saya bukan berarti saya tidak kuat (ciiieeee) hanya saja saya tidak ingin terbayang perasaan ini dan menyimpannya sendiri. Saya ingin dalam hidup saya, saya bisa bergerak bebas dan tidak tertekan jadi lebih baik di ungkapkan dari pada di pendam.

Soal diterima atau tidaknya sih belum ada kabar sama sekali karena yah waktu itu niat saya cuma buat bilang perasaan saya saja, bukan menanyakan tentang bisa jadi pacar nya atau tidak. Saya tahu kalau kita jatuh cinta, kita akan sangat ingin memiliki orang yang kita cintai itu, begitu juga saya. Tapi saya punya keadaan dimana punya pacar yang berada dalam kondisi mencintai bukanlah perkara mudah, ketika saya seharusnya fokus pada kuliah yang mendekati akhir study ini dan juga beberapa plan saya yang belum terwujud.

Jadi ya, katakanlah saya cukup lega dengan tindakan mengungkap perasaan tadi. Soal pernyataan saya tentang 'Punya pacar yang di cintai'. Yup saya bisa jelaskan. Saya memang punya pacar saat ini tapi tidak masuk dalam kategori cinta, hanya disukai biasa saja. Saya hanya butuh seseorang dimana pada penghujung hari bisa saling bertukar pikiran, dan untuk dia cukuplah. Tapi kalau sudah menyangkut cinta, dijamin pasti bakal lebih repot dan dalam dari ini. Oleh karena itu saya lebih memilih hanya mengungkapkannya.

Yang baca blog saya pasti pikir saya playgirl atau perempuan sinting, honestly yes I am. hahaha .. kidding! Well, saya hanya tahu yang mana prioritas dan yang mana bukan. Saya senang adanya cinta, dan tidak mati rasa setelah masa lalu saya ( =((: Dalam deh!!), tapi membiarkan diri kita di kontrol cinta bukanlah apa yang saya butuhkan saat ini, saya punya beberapa rencana dan itu harus fix sekitar 1,5 tahun ini jadi yah mari berupaya untuk fokus dulu pada tujuan saya.

Good luck me. God bless me 

 


Kisah Tiga Sahabat

Definisi sahabat dari ku adalah menemukan beberapa orang yang bisa menerima kegilaan ku, yang karena mereka juga punya sifat gila...