Ibu ku ..
Ia seperti seseorang yang aku benci kala nilai ku terlalu
rendah dibanding nilai rapor nya dulu. Aku sering bertanya, berapa IQ – nya. Dan
aku selalu mendapat jawaban dengan ejekan dari bibir nya. Itu menyebalkan!
Kadang aku heran, bagaiamana ia cukup bagus dalam semua mata
pelajaran, dan berlagak seolah itu cukup mudah. Lalu menemukan bahwa kenyataan nya
seperti itu, dan aku mulai kesal.
Ibu ku adalah rival ku. Katakan aku gila! I AM! Tapi aku
begitu terobsesi mengalahkan prestasi nya dari sejak ia memukul ku dengan sapu
dan pot bunga hanya supaya aku bisa lancar membaca.
Dihari-hari ku, ada hari tertentu dimana aku begitu membenci
hari itu. Hari penerimaan raport. Hari dimana ibu ku tahu bahwa aku bukan juara
1 di kelas, dan ia tidak akan mau repot-repot mengambil nya. Dan mereka berdua –
ayah ibu ku – akan berakting seolah-olah itu bukan hari penerimaan raport dan
lalu raport itu akan tinggal menetap dalam lemari kecil guru ku hingga aku
berhasil mendapat rangking 1.
Pertanyaan andalan nya “kau rangking berapa?”
Jika bukan rangking satu, maka respon andalan nya “mama
sibuk”
WHAT THE HELL!
Sejak aku SD, aku punya cita-cita ingin jadi dokter, yah dokter
yang takut untuk menyuntik orang lebih tepatnya. Lalu begitu naik ke jenjang
yang lebih tinggi,aku mulai menyingkirkan segala macam pelajaran kecuali bahasa
inggris, aku tergila-gila. Begitu kuliah, ibu tanpa babibu langsung menyodorkan
manajemen. Dan ia berkata “itu”. THATS IT! Sisanya 4,5 tahun aku sibuk dengan
menaklukan “itu”!!
Ibu punya satu mantera yang selalu ia ajarkan pada ku. Kenapa
aku tak katakan prinsip? Karena prinsip masih bisa goyah, tapi mantera begitu
kau ayunkan tongkat mu maka apapun yang kau maksudkan dalam mantera itu akan
terjadi. Setidaknya begitulah yang ia pikir. Mantera itu adalah “BISA, PASTI
BISA, HARUS BISA”.
Apa kau menyadari bahwa, ia menggunakan taktik yang licik,
mulai dari kata yang halus – BISA, lalu mulai semakin kuat – PASTI BISA, dan
kuat lalu kasar dan memaksa - HARUS BISA. Percaya atau tidak, hidup ku yang
berdampingan dengan ibu ku selalu menggunakan taktik dalam tiap detiknya,
kadang itu membuat ku kesal, kadang itu membuat ku lucu tapi ibu ku adalah
seseorang yang harus ku waspadai, ia selalu ada maksud dalam tiap gerakan nya! Ingat
itu!
Ia tidak akan membuat sesuatu untuk hal sia-sia. Ia akan
memikirkan segala nya matang dan pasti. Memasang strategi dan aku sebagai anak
pertama yang ia pikir bisa segala nya, lalu di harapkan mewujudkan nya.
Tapi hidup dengan taktik dan strategi dari kecil membuat ku
selalu merasakan tantangan dalam tiap detik ku, dan aku bersyukur mempunyai ibu
seperti dia. Dia luar biasa. Dan sejauh ini – 23 tahun hidup, dia lah yang jadi
panutan ku. Aku selalu ingin sekuat dia, sehebat dia, sepintar dia dan sesukses
dia.
Dia ... ibu ku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar